Home » Pernikahan » Hukum Nikah Sirri Dan Dampaknya

Hukum Nikah Sirri Dan Dampaknya

1 Jun. 200914 comments
Hukum Nikah Sirri Dan Dampaknya

Salah satu tantangan bagi Kantor Urusan Agama sebagai lembaga pencatat pernikahan di Indonesia adalah masih adanya masyarakat yang melakukan nikah kontrak dan pernikahan di bawah tangan alias nikah sirri. Sehingga dengan sendirinya para pelaku nikah sirri tersebut tidak mempunyai buku nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah alias pernikahannya tidak tercatat.

Menurut Drs. Zamhari Hasan MM, (Widyaiswara Utama Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama RI) pernikahan sirri biasanya terjadi untuk nikah kedua dan seterusnya, karena untuk mendapatkan izin dari isteri pertama sangat sulit. “Pernikahan seperti ini jelas tidak mempunyai kepastian hukum atau tidak mempunyai kekuatan hukum. Dalam hal ini yang paling dirugikan adalah wanita.

Istilah nikah sirri atau nikah yang dirahasiakan memang dikenal di kalangan para ulama, paling tidak sejak masa Imam Malik bin Anas. Hanya saja nikah sirri yang dikenal pada masa dahulu berbeda pengertiannya dengan nikah sirri pada masa sekarang. Pada masa dahulu yang dimaksud dengan nikah sirri yaitu pernikahan yang memenuhi unsur-unsur atau rukun-rukun perkawinan dan syaratnya menurut syari’at, yaitu adanya mempelai laki-laki dan mempelai perempuan, adanya ijab qabul yang dilakukan oleh wali nikah dengan mempelai laki-laki dan disaksikan oleh dua orang saksi.  Hanya saja si saksi diminta untuk merahasiakan atau tidak memberitahukan terjadinya pernikahan tersebut kepada khalayak ramai, kepada masyarakat, dan dengan sendirinya pernikahan tersebut tidak ada i’lanun-nikah (pengumuman atau pemberitahuan) dalam bentuk walimatul-‘ursy atau dalam bentuk yang lain.

Yang dipersoalkan adalah apakah pernikahan yang dirahasiakan, tidak diketahui oleh orang lain sah atau tidak, karena nikahnya itu sendiri sudah memenuhi unsur-unsur dan syarat-syaratnya. Adapun nikah sirri yang dikenal oleh masyarakat Indonesia sekarang ini ialah pernikahan yang dilakukan oleh wali atau wakil wali dan disaksikan oleh para saksi, tetapi tidak dilakukan di hadapan Pegawai Pencatat Nikah sebagai aparat resmi pemerintah atau perkawinan yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama bagi yang beragama Islam atau di Kantor Catatan Sipil bagi yang tidak beragama Islam, sehingga dengan sendirinya tidak mempunyai Akta Nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Perkawinan yang demikian di kalangan masyarakat selain dikenal dengan istilah nikah sirri, dikenal juga dengan sebutan perkawinan di bawah tangan.

Nikah sirri yang dikenal masyarakat seperti disebutkan di atas muncul setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selengkapnya lihat link di bawah) dan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Dalam kedua peraturan tersebut disebutkan bahwa tiap-tiap perkawinan selain harus dilakukan menurut ketentuan agama juga harus dicatatkan. Dalam pasal 2 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan:

Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu.

Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Nikah/Kawin Sirri Melanggar Undang-undang

Meskipun Undang-Undang Perkawinan sudah diberlakukan sejak 32 tahun lalu, praktik perkawinan yang melanggar undang-undang ini terus saja berlangsung. Bahkan, ada gejala terjadi perebutan otoritas antara ulama dan negara.

Dalam diskusi bertema “Illegal Wedding” yang diselenggarakan Pusat Pelatihan dan Informasi Islam dan Hak-hak Perempuan Rahima di Rahima, Jakarta, Kamis (21/6/08), hal tersebut tergambar konkret dari penjelasan Nurul Huda Haem, S. Ag, penghulu dan petugas pencatat nikah di Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan (saat ini sudah alih tugas sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional di Kec. Mampang Prapatan Jakarta Selatan.

Salah satunya adalah nikah di bawah tangan atau yang umum di sini disebut nikah siri. Secara definisi, Nurul Huda menyebut nikah sirri adalah pernikahan yang dilakukan di luar pengawasan petugas sehingga pernikahan itu tidak tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA).

“Dilihat dari undang-undang, hukum nikah siri adalah pelanggaran alias batal demi hukum,” tandas Nurul Huda yang menuliskan pengalamannya sebagai penghulu dalam buku Awas! Illegal Wedding. Dari Penghulu Liar Hingga Perselingkuhan (Hikmah Populer, 2007).

Alasan Nurul Huda, negara sudah mengeluarkan Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang mengatur mengenai perkawinan. Di dalam undang-undang itu disebutkan, perkawinan harus dicatatkan pada KUA. “Undang-undang itu merupakan hasil penggodokan yang melibatkan unsur ulama, Jadi, dapat dikatakan undang-undang itu adalah produk ijtihad ulama Indonesia,” tandas Nurul Huda.

Ketika produk hukum negara dilahirkan melalui ijtihad ulama dan untuk kemaslahatan rakyat, menurut Nurul Huda, produk itu menjadi produk syariat juga. “Ada kaidah yang mengatakan, keputusan pemerintah mengikat dan menghilangkan perselisihan,” ujarnya.

Pendapat yang mengatakan Islam tidak mengatur pencatatan untuk perkawinan, menurut Nurul Huda, harus dikaitkan dengan perhatian Islam yang besar pada pencatatan setiap transaksi utang dan jual beli. Bila untuk urusan muamalah, seperti utang saja pencatatan dilakukan, apalagi untuk urusan sepenting perkawinan. Alasannya, perkawinan akan melahirkan hukum-hukum lain, seperti hubungan persemendaan, pengasuhan anak, dan hak waris.

Mudah-mudahan artikel tentang Hukum Nikah Sirri Dan Dampaknya ini bisa bermanfaat untuk anda, terima kasih.

Laman: 1 2

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Syarat-syarat Perkawinan Campuran (Menikah Dengan WNA/Beda Kewarganegaraan
  2. Google Weddings, Situs Khusus Para Calon Pengantin
  3. Prosedur Dan Tata Cara Perceraian Anggota TNI/POLRI
  4. Gedung Pernikahan Murah Di Jakarta
  5. Daftar Alamat KUA Di DKI Jakarta
  6. Perjanjian Perkawinan
  7. Biaya Sewa Gedung Pernikahan Di Jakarta
  8. Bacaan Sighat Ta’lik Setelah Akad Nikah
  9. Apa Yang Menghalangi Kita Untuk Menikah?
  10. Kompilasi Hukum Islam (KHI)
  1. 24-6-2011 at 13:21 | #1

    saya bingung kenapa??? setiap pembuatan ktp dan kk itu lama sampe berbulan-bulan. padahal setau saya blangko sudah ada tinggal di ketik biodata yang bersangkutan dan foto langsung di tempat. perkiraan saya makan waktu 3 hari cukup untuk menyelesaikan ktp dan kk baru tetapi kenapa sampe dua minggu bahkan bisa dua bulan. jadi pada ngapain petugas kerjanya?? malas atau tidak ada waktu ?? karna mencari sampingan yang lain??? mohon deh untuk setia dalam tugas dan tanggungjawabnya. terima kasih
    _______________________________________
    Mohon maaf pertanyaan anda salah alamat/tempat

  2. shinta
    14-8-2011 at 09:34 | #2

    mana yang lebih baik? sah dmata Allah swt atau sah dmata hukum??? jika uraian d atas menyatakan bahwa nikah sirri melanggar undang-undang,apakah hukum dan ulama indonesia membenarkan perselingkuhan……..apakah ada dalil dan hadistnya yang menyatakan bahwa nikah sirri itu tidak sah dmata Allah swt?
    ______________________________________________________________

    Yang terbaik adalah sah secara agama dan sah secara Negara, ini ada kaitannya dg hablumminallah dan hablumminannaas, vertikal dan horizontal baik, bukankah setiap muslim tiap hari berdoa Rabbana atina fid-dunya hasanatan wa fil ‘akhirati hasanatan waqina ‘adhaban-nar, dan adanya pencatatan banyak sekali hikmah dan manfaatnya sementara jika nikah tidak tercatat dikhawatirkan akan banyak madhorot dan seringkali merugikan perempuan dan kaidah ushul fiqh mengatakan dar ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih,

    Nikah SIRRI adalah pernikahan yang hanya memenuhi prosedur keagamaan. Nikah sirri artinya nikah secara rahasia, tanpa melaporkannya ke KUA atau ke Kantor Catatan Sipil. Biasanya nikah sirri dilaksanakan karena kedua belah pihak belum siap meresmikannya atau meramaikannya, namun di pihak lain untuk manjaga agar tidak tidak terjadi kecelakaan atau terjerumus kepada hal-hal yang dilarang agama.

    Sah tidaknya nikah sirri secara agama, tergantung kepada sejauh mana syarat-syarat nikah terpenuhi, yaitu adanya wali, minimal dua saksi, adanya mahar dan ijab qabul. Secara hukum positif, nikah sirri tidak legal karena tidak tercatat dalam catatan resmi pemerintah. Ini karena siapapun warga negara kita yang menikah harus mendaftarkan pernikahan itu ke KUA atau Kantor Catatan Sipil, untuk mendapatkan Surat/Akta Nikah.

    Sekarang ini sering muncul fenomena baru nikah sirri yang dilakukan, dengan alasan tertentu, tanpa wali perempuan, bahkan terkadang juga tanpa saksi dan tanpa sepengetahuan orang tua pihak perempuan. Pernikahan seperti ini tidak sah secara agama dalilnya hadists Nabi SAW : “La nikaaha illa biwaliyyin wa syaahiday ‘adlin” dan secara secara hukum negara sudah pasti tidak sah.

    Jika terjadi persoalan-persoalan yang menyangkut hukum sipil, administrasi kependudukan, fatwa waris dll pelaku nikah sirri tidak berhak/akan mendapatkan kesulitan untuk mendapatkan/menyelesaikan masalahnya melalui lembaga-lembaga hukum yang ada karena pernikahannya tidak terdaftar. jadi nikah tidak tercatat akan dikhawatirkan banyak menimbulkan madhorot dan seringkali merugikan perempuan dan kaidah ushul fiqh mengatakan dar ul mafasid muqoddamun ‘ala jalbil masholih : mencegah kesukaran/kehancuran harus didahulukan

    Adapun tentang perselingkuhan itu adalah masalah moral dan akhlak individu serta keimanan, orang yang nikah resmipun masih bisa berselingkuh jika dalam dirinya tidak ada iman, akhlak dan moral.Wallahu ‘alam bishshowab.

    shinta Reply:

    saya bingung sekali,saya berada di antara 2 pilihan…antara orang tua atau org yg saya cnta..perlu bpk ketahui org yg saya cintai dsni adalah org yg telah berkeluarga,org tua saya tdk merestui hbngan kami..qm sdh menempuh jalur hukum yg telah dtentukan namun persyaratan dr pengadilan agama sangat menyulitkan qm maka qm bermaksud untuk nikah sirri…
    saya seorang yatim,dan kami telah membicarakan ini kpda paman/adik dr ayah dan ia bersedia mewalikan kami,bknkah jodoh dtangan Allah swt,apakah saya salah memilih org yg saya cintai atau saya harus menyalahkan jodoh saya?
    mohon jawabannya..

  3. wan
    17-8-2011 at 16:08 | #3

    Persyaratan nikah ke 2 apa aja ?
    nampaknya banyak yang perlu tapi gak jelas …

  4. adli dzil
    28-9-2011 at 21:26 | #4

    kalau ada nikah siri dalam kompilasi hukum islam tolong di share ke email kak …

    adli.180792@yahoo.co.id

  5. Ali
    5-11-2011 at 02:45 | #5

    Artikel ini membahas tentang suatu yang penting dalam Islam yakni pernikahan dengan tidak tuntas dan cenderung tidak adil dan beraroma pembenaran terhadap pendapat yang anti poligami (sesuatu yang kita ketahui sehebat apapun orang memusuhinya tetap merupakan satu syariat dalam Islam, tidak bisa dihilangkan). Artikel ini terlalu selalu berlandaskan kepada hukum negara (RI). Padahal kita ketahui Islam itu sangat luas melebihi batas-batas negara-negara. Kenapa Hukum Islam yang harus menyesuaikan dengan Hukum Negara?? Kenapa tidak Hukum Negara yang menyesuaikan dengan Hukum Islam.

  6. Ali
    5-11-2011 at 02:46 | #6

    Siapa yang berani mengatakan bahwa poligami bukan atau tidak ada dalam Hukum Islam? Kalau ada yang berani mengatakan demikian saya akan mengatakan dengan keras: silakan keluar dari Islam! Karena sama artinya dengan hanya mau menjalankan syariat Islam yang dianggap sesuai dengan akalnya dan menolak yang tidak sesuai atau yang dia sendiri belum sampai akalnya tentang hal tsb. Nah kalau begitu, kalau ada hukumnya dan Allah SWT sendiri yang mensyariatkannya kenapa kita menentangnya.

  7. Ali
    5-11-2011 at 02:47 | #7

    Dalam Islam sendiri tidak dikenal yang namanya Nikah Sirri. Coba tunjukkan kepada saya satu potong saja Hadist apalagi Alquran yang memuat Nikah Sirri. Nikah ya Nikah! Mau itu nikah pertama, kedua, ketiga atau keempat tetap saja namanya NIKAH!
    Saya heran, selalu keluhannya adalah bahwa ‘nikah sirri’ (meminjam istilah dalam artikel ini) akan menyebabkan mudharat, akan merugikan kaum perempuan karena tidak akan diakui negara dan dan hak-haknya tidak dapat terpenuhi bla bla bla…. Nah kalau masalahnya itu kenapa tidak negara yang berinisiatif mengatur itu semua dalam bentuk UU sehingga hak-hak istri pertama, kedua, ketiga dan keempat tetap dapat dijamin. Kenapa syariat Islam tentang poligami yang malah dikorbankan?

  8. Arum
    25-11-2011 at 14:16 | #8

    Assalamualiakum..saya ada masalah dlm niat baik untuk menikah..?? sebenarnya salah kah saya dlm posisi ank telah meminta izin kepada org tua saya tuk menikah. jujur sblm na kekasih saya org yx dri klrga yx sederhana,,tetapi org tua saya menuntut bnyk dri calon suami saya..apakah saya berdosa lw menikah sendiri tp hnya dgn wali hakim,,KARNA saya kan sdh meminta izin sblm nya pada orang tua saya..karna saya ingin menikah agar menjauhkan hal” yx tak lazim,MAaf sblm nya sepeerti zinah..jd mnrt bpk saya hrs berbuat ap..?? kan bkn nya nikah t yx penting sakraL na syah na yaitu akad nya..Mohon solusinya..
    —————————————————————-
    Untuk bisa menikah karena orang tua tidak setuju, anda bisa mengajukannya ke Pengadilan Agama terlebih dahulu jika nantinya dikabulkan maka pernikahannya bisa dilaksanakan di KUA dg wali hakim adhol

  9. 11-1-2012 at 10:59 | #9

    dalam hal ini saya seorang mualaf, telah melangsungkan pernikahan menurut syariat islam. dan menyerahkan perlansungan pernikahan kepada keluarga dari istri saya, karena saya tidak mengetahui tata cara pernikahan secara islam.selang waktu saat saya menanyakan kepada keluarga istri tentang buku nikah saya, dimana saya justru disuruh menebus buku nikah tersebut sebesar 2 jt. hal ini membuat saya curiga dan mengecek pernikahan saya pada kantor KUA setempat, ternyata pernikahan saya tidak tercatat. dan, pada saat ini saya telah berpisah dengan istri saya, padahal saya membutuhkan buku nikah untuk mendaftarkan atau mengajukan permohonan dalam pembuatan akte kelahiran anak pd kantor pencatat penduduk. tindakan apa yang harus saya lakukan? apakah saya dapat menuntut pihak istri terhadap pernikahan saya? bagaimana menurut pendapat anda?

  10. 6-10-2012 at 15:00 | #10

    Maaf bukanya ada maksud apa2, saya sering membantu untuk melangsungkan pernikahan siri. tapi kebanyakan alasan mereka adalah dari pada berzinah. dan pada dasarnya hubungan mereka direstui oleh kedua orang tua.tapi karna satu dan lain hal dan menghindari ” itu tadi ” maka mereka melangsungkan pernikahan siri.lengkap dengan saksi,ustad,mas kawin, kedua calon pengantin,icap kabul,mahar.itupun pasti saya sarankan untuk menikah dengan dicatat oleh KUA, tapi memang agak sedikit rumit untuk melangsungkan pernikahan di KUA. jadi tolong jangan hanya hukum negara saja yang dikedepankan, tapi hukum islam yang di dahulukan pa. kalau memang kita bicara dengan landasan agama.maaf kalau kurang berkenan.

Comment pages