Home » Religi » Bisnis Ala Rasulullah SAW : Uang Bukan Modal Utama

Bisnis Ala Rasulullah SAW : Uang Bukan Modal Utama

9 Aug. 201145 comments
Bisnis Ala Rasulullah SAW : Uang Bukan Modal Utama

Prinsip bisnis ala Rasulullah Muhammad SAW. Apakah modal utama memulai usaha? Jika Anda menjawab uang, mungkin benar, tapi tidak dalam bisnis ala Rasulullah SAW. “Yang menjadi number one capital dalam bisnis ala Rasulullah adalah kepercayaan (trust) dan kompetensi,” kata pakar ekonomi syariah, Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec.

Menurut beliau, dalam trust itu ada integritas dan kemampuan melaksanakan usaha. “Rasulullah membangun usaha dari kecil, dari sekadar menjadi pekerja, kemudian dipercaya menjadi supervisor, manager, dan kemudian menjadi investor.

Perjalanan dari kuadran ke kuadran itu, menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang entrepreneur yang memiliki strategi dalam mengembangkan usahanya dan karakteristik untuk mencapai sukses.

Sebagai pengusaha dan pemimpin, Rasulullah mempunyai sumber income yang sangat banyak. Namun beliau sangat ringan tangan memberi bantuan. “Beliau sangat tidak sabar melihat ada umat yang menderita dan tidak ridha melihat kemiskinan di sekitarnya atau kelaparan di depan matanya.

Itu sebabnya, Rasulullah selalu berinfak dengan kecepatan yang luar biasa, yang digambarkan para sahabatnya sebagai “seperti hembusan angin”. “Beliau menyedekahkan begitu banyak hartanya dan mengambil sedikit saja untuk diri dan keluarganya.

Sementara itu menurut Laode M. Kamaluddin. Ph.D. dalam bukunya “14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW Membangun Kerajaan Bisnis”, kejujuran dan keterbukaan Rasulullah dalam melakukan transaksi perdagangan merupakan teladan bagi seorang pengusaha generasi selanjutnya. Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangan dengan standar kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan sehingga tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh atau bahkan kecewa. Reputasi sebagai pelanggan yang benar-benar jujur telah tertanam dengan baik. Sejak muda, beliau selalu memperlihatkan rasa tanggung jawabnya terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

Di dalam buku ini dipaparkan rahasia bisnis Rasulullah, antara lain menjadikan bekerja sebagai ladang menjemput surga; berpikir visioner, kreatif dan siap menghadapi perubahan; pintar mempromosikan diri; menggaji karyawan sebelum kering keringatnya; mengutamakan sinergisme; berbisnis dengan cinta; serta pandai bersyukur dan berucap terima kasih.

Selain memaparkan rahasia bisnis Rasulullah, Laode M. Kamaluddin. Ph.D juga memberi penekanan khusus pada pentingnya menjaga amanah. Sebab kesuksesan Rasulullah tak bisa lepas dari keberhasilannya menjaga kepercayaan (amanah), ini merupakan ciri utama dari aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Rasulullah sehingga tidak ada satupun orang yang berinterakasi dengan beliau kecuali mendapatkan kepuasan yang luar biasa. Dan sangat pantas jika beliau mendapatkan gelar Al-Amiin (orang yang dapat dipercaya). Itulah modal terbesar yang tak bisa ditawar-tawar jika kita ingin sukses dalam berbisnis seperti Rasulullah.

Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan : “Muhammad did his dealing honestly and fairly and never gave his customers to complain. He always kept his promise and delivered on time the goods of quality mutually agreed between the parties. He always showed a gread sense of responsibility and integrity in dealing with other people. His reputation as an honest and truthful trader was well established while he was still in his early youth”.

(Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang yang jujur dan adil (fairplay) dalam membuat perjanjian bisnis dan tidak pernah membuat para pelanggannya mengeluh (komplain). Beliau selalu menepati janjinya dan dalam menyerahkan/mengirimkan barang-barang pesanannya selalu tepat waktu dan tetap mengutamakan kualitas barang yang telah dipesan dan disepakati sebelumnya. Dalam berperilaku bisnis Beliau selalu menunjukkan rasa penuh tanggung jawab dan memiliki integritas yang tinggi di mata siapapun. Reputasi beliau sebagai seorang pedagang yang jujur dan adil telah dikenal luas sejak beliau masih muda).

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa Nabi Muhammad adalah seorang pedagang yang jujur dan adil serta dapat dipercaya dalam membuat perjanjian bisnis sehingga beliau sukses dalam usahanya. Bandingkan dengan keadaan saat ini yang ada di sekitar kita, ada sebagian saudara kita yang cenderung menghalalkan segala cara dalam menjual dagangannya. Fenomena penjual daging sapi glonggongan, daging sapi dicampur daging celeng, ayam tiren (ayam mati kemaren), borak, beras dicampur pemutih pakaian, pewarna makanan menggunakan pewarna kain dan masih banyak lagi. Mereka seolah tidak peduli dengan kerugian dan dampak yang akan diterima oleh pembelinya. Semakin membuat kita prihatin mereka berdalih “cari yang haram saja susah apalagi yang halal ?.

Di dunia mayapun seolah tak mau ketinggalan, makin maraknya cyber crime, aksi tipu-tipu, scam, hoax, virus, pencurian data sampai pembobolan rekening dll, membuat kita semakin prihatin. Dari ke semua itu timbul pertanyaan di benak saya : Masih adakah kejujuran dan keadilan serta amanah atau kepercayaan (trust) di sekitar kita?. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk-Nya kepada kita semua. Amin.

Referensi :

  • Eksiklopedia Leadership & Manajemen Muhammad SAW, The Super Leader Super Manager – Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec
  • 14 Langkah Bagaimana Rasulullah SAW Membangun Kerajaan Bisnis – Laode M. Kamaluddin. Ph.D
  • Muhammad A Trader – Prof. Afzalul Rahman
  • Hayatu Muhammad – Muhammad Husain Haikal.
Mudah-mudahan artikel tentang Bisnis Ala Rasulullah SAW : Uang Bukan Modal Utama ini bisa bermanfaat untuk anda, terima kasih.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :

  1. Tips Agar Tetap Tegar Ketika Tertimpa Musibah
  2. Wahai Dunia
  3. Software Islami, Aplikasi Penghitung Harta Warisan
  4. Ceramah Gus Mus Sesudah Tahlilan Mbah Zainal
  5. Andaikata Bisa Lebih Panjang Lagi
  6. Bacaan Talbiyah
  7. Melanjutkan Studi Ke Universitas Al Azhar Cairo
  8. Makna Hidup Dalam Kehidupan Berkeluarga
  9. Hukum Transaksi via Elektronik
  10. Pondok Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor
  1. 11-8-2011 at 20:23 | #1

    bagaimana menjadi seorang interpreneur sejati.-
    Bisa berbagi dari apa yg telah diperoleh
    Alangkah indah jika semua pengusaha mau menyishkan hasii yg diperoleh

    Reply

  2. 12-8-2011 at 00:47 | #2

    Subhanallah .. mmg Junjungan kt ini wajib untuk di ikuti

    Reply

  3. 12-8-2011 at 04:26 | #3

    setujuuuuuuuuu………

    Reply

  4. 12-8-2011 at 05:14 | #4

    kalau saja semua umat islam bisa hidup berpedoman kepada Rasul

    Reply

  5. 12-8-2011 at 14:12 | #5

    Yups, betul sekali kepercayaan itu yang utama. Pintar dan modal bisa dicari, tetapi kepercayaan dan kejujuran itu mahal harganya. absen blogwalking yaa mas.. =)

    Reply

  6. 13-8-2011 at 01:59 | #6

    Sepakat Mas alwi, Money Is not everythingh

    Reply

  7. 14-8-2011 at 07:13 | #7

    Amin Ya Robbal ‘alamin,,, Subhanalloh,,,, cukup mencerahkan. kadang diantara kita banyak yang “LUPA” bahkan sengaja menlupkan hal yang paling urgent tersebut.

    Reply

  8. 15-8-2011 at 23:21 | #8

    RASULULLAH JUGA BERNIAGA BERMODALKAN TUHAN.
    TUHAN YANG MEMBERIKAN BAGINDA WAHYU UNTUK PANDUAN UMAT.

    Reply

  9. 19-8-2011 at 14:28 | #9

    Nabi Muhammad S.A.W panutan qita semua..dari segala bidang apa pun.aku yakin di zaman sekarang para pebisnis banyak modal dan uang,tapi punya kah 4 ahlak yang di miliki ROSUL?

    Reply

    arif Reply:

    kalo menurut saya sih, 4 akhlak rasul itu memang sulit atau bahkan mustahil dimiliki manusia biasa, tapi setidaknya kita bisa mencontoh dari beliau…

    Reply

  10. Dedy Heriyanto
    13-9-2011 at 19:13 | #10

    masih ada ko yang jujur,,cuma g terlihat aja atau org gtau aja, yar lah waktu yg menjawab……

    Reply

Comment pages
0+7=? (Wajib diisi)