Bahaya Perut

21 Nov. 2009176 comments

dampak-psikologis-obesitas Pada suatu hari Rasulullah SAW kedatangan tamu seorang dokter (tabib) bangsa Yahudi yang datang dari Palestina. Ia minta izin untuk buka praktek di kota Madinah. Rasulullah pun mengizinkan. Singkat cerita sang dokterpun itupun mulai buka praktek. Tapi baru satu bulan kemudian ia datang lagi menemui Rasulullah untuk permisi pulang ke negerinya.

Rasulullahpun tidak bisa menyembunyikan keheranannya. “Kenapa anda begitu cepat meninggalkan kota ini, apa ada yang kurang menyenangkan di kota ini?” tanya Rasulullah.

“Tidak tuan. Semua baik-baik saja. Bahkan penduduk kota ini sungguh sangat ramah dan menyenangkan,” jawab sang dokter (tabib).

“Lalu, apa yang menjadi masalahnya?, tanya Rasulullah kemudian.

Kemudian sang tabib berterus terang, bahwa ia ingin cepat pulang ke negerinya karena selama satu bulan buka praktek di kota Madinah, tak satupun warga kota yang datang untuk berobat kepadanya. Padahal di negerinya ia termasuk dokter ahli/pakar/spesialis yang cukup terkenal dan banyak pasiennya.

Dokter itupun melanjutkan ceritanya. “Karena penasaran, saya berkeliling kota masuk kampung ke luar kampung untuk mencari pasien yang sakit. Tapi tak satupun saya jumpai orang sakit untuk saya obati. Sayapun merasa heran, seluruh warga kota dalam keadaan sehat wal afiat. Belum pernah saya dapatkan kota dengan seluruh penduduknya yang sehat seperti di kota Madinah ini,” ujarnya panjang lebar.

“Lalu, saya pun bertanya kepada penduduk yang saya jumpai, apa rahasianya sehingga mereka hidup nyaris sehat sempurna?” lanjut sang dokter. “Lantas apa jawab mereka? tanya Rasulullah tak sabar. Mereka pun menjawab : Kami adalah kaum yang tidak akan makan sebelum datang rasa lapar. Dan apabila kami makan, tidak sampai kekenyangan. Begitulah jawab mereka tuan,” jelas sang dokter itu.

Mendengar cerita sang dokter tersebut, Rasulullah pun  berkomentar, “Sungguh benar apa yang mereka katakan kepada tuan,” kata Rasulullah sambil menyitir sebuah hadits, yang artinya : “Lambung manusia itu tempatnya segala penyakit, sedangkan pencegahan itu pokok dari segala pengobatan.” (HR. ad-Dailami).

Mengambil hikmah dari cerita dokter di atas , bisa kita simpulkan bahwa kaum muslimin pada masa Rasulullah adalah umat atau kaum yang sangat disiplin dalam mempraktekkan pola hidup sederhana. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud ra bahwa , “‘Kami adalah kaum yang tidak akan makan sebelum datang rasa lapar. Dan apabila kami makan, tidak sampai kekenyangan.” menggambarkan sikap hidup mereka yang sangat berhati-hati dalam soal mengendalikan perut.

Muncul pertanyaan, apakah mereka mempraktekkan nilai-nilai itu “tidak akan makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kekenyangan” dikarenakan mereka hidup dalam kemiskinan? jawabannya tidak. Sebab pada saat itu justru mulai bermunculan orang-orang kaya baru seperti Abdurrahman bin Auf yang sukses dengan bisnisnya. Tapi meskipun mereka kaya, mereka tidak rakus. Pola hidup sederhana yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah benar-benar mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal secara logika tidak ada larangan untuk menikmati sesuatu yang menjadi miliknya. Toh makanan itu mereka beli dari hasil kerja mereka sendiri, bukan mencuri, merampas hak orang apalagi hasil korupsi.

Tapi semua itu tidak mereka lakukan, meskipun dalam kondisi mampu untuk menikmatinya. Karena dengan pemahamannya itu lantas mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka yakin bahwa tanpa kendali perut hanya akan menjadi tempat segala macam penyakit baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Yang bersifat fisik seperti obesitas, diabet, penyakit jantung  dan lain-lain.

Menurut Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro SpPD-KEMD (ahli penyakit dalam), timbunan lemak pada perut, ternyata lebih berbahaya daripada pantat yang besar. Penelitian terakhir mengungkapkan jika perut yang besar, adalah muara terjadinya berbagai penyakit kronis. Bahkan pemicu terjadinya metabolic syndrome yang merupakan kumpulan penyakit berbahaya seperti jantung koroner, diabetes, darah tinggi, kenaikan kadar kolesterol hingga perlemakan hati dan liver. Sementara pada perempuan yang mengalami obesitas abdominal, rawan terkena kanker endometrium dan PCOS yang berakibat pada terjadinya kemandulan.

“Jika masuk pada stadium tiga, sindroma metabolic itu bisa menyebabkan pre diabetes mellitus dan diabetes mellitus (DM) tipe dua. Namun, jika terus dibiarkan, dia bisa masuk stadium empat yang merupakan manifestasi penyakit seperti jantung koroner, stroke dan lain-lain,”

Sedangkan yang bersifat non fisik adalah segala bentuk penyakit kejiwaan (psikis), seperti tamak, serakah, rakus, konsumtif, materialistis, foya-foya pemboros dan lain-lain, yang hanya bisa diobati dengan dzikrullah, dan senantiasa bertaqarrub kepada Allah SWT. Dari berbagai sumber.

Artikel Yang Mungkin Berkaitan :
  1. Thawaf dan Sa’i
  2. Tips Tetap Sehat Dan Bugar Selama Berpuasa
  3. Melihat Calon Isteri Ketika Khitbah (waktu lamaran)
  4. Wahai Dunia
  5. Doa Untuk Kemudahan Melahirkan
  6. Hikmah dan Keajaiban Wudhu
  7. Marhaban Ya Ramadhan
  8. Memahami Makna Idul Adha
  9. Selamat Idul Fitri 1431 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin
  10. Kumpulan Do’a Untuk Calon Penganten (Arab, Indonesia)
  1. 2-6-2010 at 09:36 | #1

    Makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang.

    Reply

    alamendah Reply:

    jangan sampai kekenyangan

    Reply

    munir ardi Reply:

    sepertiga aja mas makannya

    Reply

    munir ardi Reply:

    saya aja kegendutan bukan kuat makan tapi minum

    Reply

    munir ardi Reply:

    dan memang rasanya lambung sesak

    Reply

    munir ardi Reply:

    napas juga sesak sesekali

    Reply

    munir ardi Reply:

    pokoknya harus mengatur pola makan dengan baik

    Reply

    munir ardi Reply:

    jangan asal embat semua

    Reply

    munir ardi Reply:

    jangan asal embat semua makanan

    Reply

    munir ardi Reply:

    agar pencernaan tetap sehat

    Reply

    munir ardi Reply:

    perut memang sumber segala penyakit

    Reply

    munir ardi Reply:

    jadi jagalah perut anda baik-baik

    Reply

  2. 2-6-2010 at 09:36 | #2

    (maaf) izin mengamankan PERTAMA dulu. Boleh kan?! di PAGE KETIGA
    wakakakakakak

    Reply

    Bang Iwan Reply:

    Aku pamit dulu Kang …
    mau meluncur ke Si Hijaunya kang Alam..
    lama nggak mampir disana.

    Reply

    munir ardi Reply:

    pokoknya mas alam no 1 di semua page

    Reply

    munir ardi Reply:

    saya juga lama sekali nggak kesana bang

    Reply

    munir ardi Reply:

    entar deh kalau udah bisa nyusul mas alam

    Reply

    munir ardi Reply:

    baru kesana jalan-jalan

    Reply

    munir ardi Reply:

    pokoknya keliling deh tapi disni tetap prioritas utama

    Reply

    munir ardi Reply:

    supaya nggak terlalu jauh jaraknya

    Reply

    munir ardi Reply:

    dengan mas alam dan kanda iwan

    Reply

    munir ardi Reply:

    oke deh kayaknya bang iwan belum datang tuh

    Reply

    munir ardi Reply:

    ayo mas hendri kan servernya down

    Reply

    munir ardi Reply:

    kesini aja lagi kita balapan

    Reply

  3. 30-6-2010 at 15:12 | #3

    Hendaknya kita bertaqwa kepada Allah dengan cara memakan makanan yang halal dan menjauhi makanan yang haram.

    Reply

  4. 30-6-2010 at 15:12 | #4

    Karena makanan yang baik itu mempunyai pengaruh yang besar bagi manusia, terhadap akhlaqnya, kehidupan hatinya dan jernihnya pandangan serta diterimanya amal-amal kita.

    Reply

  5. 30-6-2010 at 15:12 | #5

    Sedangkan makanan yang haram mempunyai dampak buruk bagi manusia, yang kalaulah dampak itu hanyalah tidak dikabulkannya do’apun niscaya hal itu merupakan kerugian yang besar. Karena seorang hamba tidak lepas dari kebutuhan berdo’a kepada Allah.

    Reply

  6. 30-6-2010 at 15:13 | #6

    Di samping itu masih ada dampak lain dari memakan yang haram, yaitu tidak diterimanya amal-amal yang telah kita laksanakan.

    Reply

  7. 30-6-2010 at 15:14 | #7

    Dalam sebuah hadits disebutkan:
    Dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa memperoleh harta dengan cara yang haram, kemudian ia shadaqahkan, maka tidak akan mendatangkan pahala, dan dosanya ditimpakan kepadanya.” (HR. Ibnu Hibban dalam Kitab Shahihnya dengan sanad hasan).

    Reply

  8. 30-6-2010 at 15:14 | #8

    Ibnu Umar radhiyallah ‘anhu berkata: “Barangsiapa membeli baju dengan sepuluh ribu dirham, namun dari sepuluh ribu dirham tersebut ada satu dirham yang haram, maka Allah tidak menerima amalnya selama baju itu masih menempel di tubuhnya.”

    Reply

  9. 30-6-2010 at 15:15 | #9

    Ibnu Abbas radhiyallah ‘anhu berkata: “Allah tidak menerima shalat seseorang yang di dalam perutnya ada sedikit makanan haram.”

    Reply

  10. 30-6-2010 at 15:15 | #10

    Para salafus shalih sangat berhati-hati sekali terhadap apa-apa yang akan masuk ke dalam mulut dan perut mereka.

    Reply

Comment pages
1 2 3 4 5 6 8 1568
5+9=? (Wajib diisi)